Setiap kali jarum indikator bensin mendekati huruf ‘E’, pertanyaan yang sama selalu muncul: “Isi Pertalite lagi atau coba Pertamax, ya?” Di satu sisi, ada bisikan hemat yang menggoda. Di sisi lain, ada keinginan merawat “kuda besi” kesayangan agar tetap prima.
Ini bukan sekadar pilihan antara yang lebih murah dan yang lebih mahal. Percayalah, ini adalah keputusan krusial yang menentukan kesehatan jangka panjang mesin mobil Anda. Sebagai jurnalis yang sudah membongkar dan mencoba ratusan mobil, saya akan tunjukkan peta perangnya agar Anda tidak salah langkah.
Sebelum kita masuk ke keuntungan dan kerugian, kita wajib kenalan dulu dengan sang pemeran utama: Oktan (RON – Research Octane Number).
Anggap saja oktan adalah tingkat “kesabaran” bensin sebelum terbakar oleh tekanan. Semakin tinggi oktannya, semakin sabar bensin tersebut untuk tidak terbakar sebelum busi memercikkan api. Mengapa ini penting? Karena mesin modern punya kompresi tinggi yang bisa “memaksa” bensin beroktan rendah terbakar sebelum waktunya. Fenomena inilah yang kita kenal sebagai knocking atau ngelitik.
Sekarang, mari kita bedah satu per satu.
Tidak bisa dipungkiri, Pertalite adalah penyelamat saat tanggal tua. Harganya yang lebih terjangkau membuatnya menjadi pilihan utama jutaan pengendara di Indonesia. Namun, di balik harganya yang bersahabat, ada beberapa hal yang wajib Anda ketahui.
Studi Kasus Nyata: Budi, seorang pengguna Toyota Avanza tahun 2021, bercerita. “Awalnya saya selalu isi Pertalite untuk hemat. Tapi kok tarikannya berat dan kadang ada suara aneh. Setelah saya coba isi penuh Pertamax tiga kali berturut-turut, mesin jadi jauh lebih halus dan anehnya jadi sedikit lebih irit. Ternyata, selisih harganya jadi tidak terasa.”
Banyak yang menganggap Pertamax adalah pilihan “gengsi” atau buang-buang uang. Ini adalah miskonsepsi total. Bagi mobil yang tepat, Pertamax bukanlah biaya, melainkan sebuah investasi cerdas.
Singkatnya: Lupakan saja. Bensin ini dirancang untuk mobil-mobil teknologi lawas dengan rasio kompresi di bawah 9:1 (seperti Toyota Kijang Karburator atau Suzuki Carry 1.0). Menggunakannya pada mobil modern sama saja dengan “bunuh diri” mesin secara perlahan. Kerak menumpuk, ngelitik parah, dan efisiensi hancur lebur.
baca juga: Tips mengatasi ban Kendaraan yang Bocor saat perjalanan
Berhenti menebak-nebak. Jawaban paling akurat ada di buku manual kendaraan Anda. Pabrikan sudah menuliskan dengan jelas rekomendasi oktan minimal yang dibutuhkan mesin Anda.
Namun, sebagai panduan cepat dari saya:
Pilihan akhir selalu ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin penghematan sesaat dengan risiko kerusakan jangka panjang, atau sedikit investasi lebih untuk performa prima dan ketenangan pikiran?
Jadilah pemilik yang cerdas, bukan sekadar pengguna. Mesin Anda akan berterima kasih.
T: Boleh nggak sih mencampur Pertalite dan Pertamax? J: Boleh saja dalam kondisi darurat, tidak akan langsung merusak mesin. Namun, ini tidak disarankan untuk jangka panjang. Mencampur RON 90 dan 92 tidak serta merta menghasilkan RON 91 yang stabil. Anda hanya akan mendapatkan bensin dengan kualitas yang “tanggung”.
T: Apa efek paling parah jika mobil kompresi tinggi terus-menerus diisi Pertalite? J: Efek jangka panjangnya adalah penumpukan kerak karbon yang parah di piston dan klep, yang akan terus-menerus menyebabkan pre-ignition (pembakaran dini). Dalam kasus ekstrem, bisa menyebabkan piston bolong dan Anda harus turun mesin, yang biayanya puluhan juta rupiah.
T: Apakah pakai Pertamax di mobil tua (LCGC) akan membuat tarikannya lebih kencang? J: Sedikit sekali, bahkan mungkin tidak terasa. Mesin kompresi rendah tidak membutuhkan oktan tinggi. Menggunakan Pertamax pada mesin ini memang membuat pembakaran lebih bersih, tetapi tidak akan memberikan lonjakan tenaga yang signifikan. Anda hanya akan “membakar uang” lebih banyak. Tetaplah pada rekomendasi pabrikan.